1. Ketinggian
  2. Kabupaten Pidie didominasi oleh kelas ketinggian 100–500 m sebesar 23,86%. Kelas ketinggian yang paling rendah adalah kelas dengan ketinggian 0-25 m sebesar 3,68%. Ditinjau dari luasnya kawasan di Kabupaten Pidie yang memiliki tanah datar memungkinkan dalam pengembangan kawasan budidaya, karena komoditas yang dapat diusahakan untuk berproduksi secara optimal umumnya berada pada kawasan yang datar.

  3. Kemiringan
  4. Kemiringan lereng merupakan faktor utama yang menentukan suatu daerah apakah layak untuk dibudidayakan atau tidak. Penggunaan lahan untuk kawasan fungsional seperti persawahan, ladang dan kawasan terbangun membutuhkan lahan dengan kemiringan dibawah 15%, sedangkan lahan dengan kemiringan di atas 40% akan sangat sesuai untuk penggunaan perkebunan, pertanian tanaman keras dan hutan.

    Kemiringan lereng merupakan kondisi fisik suatu wilayah yang sangat berpengaruh dalam kesesuaian lahan dan banyak mempengaruhi penataan lingkungan alami. Untuk kawasan terbangun, kondisi kemiringan lereng berpengaruh terhadap terjadinya longsor dan terhadap konstruksi bangunan.

    Untuk lebih jelasnya karakteristik tiap kemiringan lereng dapat dilihat sebagai berikut :

    1. Kelerengan 0%-5% dapat digunakan secara intensif dengan pengelolaan kecil.
    2. Kelerengan 5%-10% dapat digunakan untuk kegiatan perkotaan dan pertanian, namun bila terjadi kesalahan dalam pengelolaannya masih mungkin terjadi erosi.
    3. Kelerengan 10%-30% merupakan daerah yang sangat mungkin mengalami erosi, terutama bila tumbuhan pada permukaannya ditebang. Daerah ini masih dapat dibudidayakan namun dengan usaha lebih besar.
    4. Kelerengan >30% merupakan daerah yang sangat peka terhadap bahaya erosi, dan kegiatan di atasnya harus bersifat non budidaya. Apabila terjadi penebangan hutan akan membawa akibat terhadap lingkungan yang lebih luas.

    Wilayah Kabupaten Pidie digolongkan menjadi 5 (lima) bentuk wilayah berdasarkan kemiringan lereng, yaitu (1) lahan datar, yang terdiri atas dataran rendahan dan dataran landai, (2) bergelombang, (3) agak berbukit, (4) berbukit, dan (5) bergunung, dengan kemiringan lereng berkisar dari 0- >40%.

    Kemiringan lereng wilayah sangat bervariasi, yaitu datar sampai bergunung. Umumnya luasan wilayah menurut kelas lereng hampir berimbang. Kelas lereng datar dengan kemiringan 0–15% sebesar 23,53 Ha (25,57%) terdapat di bagian utara (sepanjang garis pantai Selat Malaka), yaitu mencakup Kecamatan Muara Tiga, Batee, Kota Sigli, Simpang Tiga, danKembang Tanjong. Keadaan menggambarkan penggunaan tanah di wilayah ini adalah usaha pertanian lahan basah, tambak dan tegalan.Daerah yang berlereng bergunung sampai terjal, yaitu wilayah pada kemiringan 25->40% terdapat di bagian selatan dengan jumlah luas 22,47 Ha (7,28%) yang umumnya berupa hutan, yaitu di Kecamatan Tangse, Mane, dan Geumpang.