Di Kutip Pada Harian Waspada |Pidie Tuan Rumah MTQ Terbaik Sepanjang Sejarah

Kamis, 24 Oktober 2019 / 24 Safar 1441 Belum ada komentar

 

MUSABAQAH Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Aceh XXXIV, yang dipusatkan di Kota Sigli, Kabupaten Pidie tidak terasa telah berlangsung selama tujuh hari dari tanggal 21 September 2019.

IMG-20190928-WA0040

PIDIEKAB.GO.ID | Sigli – Ajang agama islam terbesar se-Provinsi Aceh ini meninggalkan begitu banyak cerita bagi penonton dan kafilah, tidak terkecuali para pawartawan yang datang dari berbagai pelosok kabupaten/kota se Provinsi Aceh di Kota Sigli, Kabupaten Pidie. Tidak terasa hingar bingar MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXIV 2019 telah berakhir, 27 September 2019.

Dengan resminya MTQ Aceh XXXIV di tutup, berbagai kesan manis telah dirasakan oleh para tim tamu yang dipersembahkan oleh masyarakat Pidie. Hampir semua kafilah yang ditemui bupati Pidie Roni Ahmad, mengungkapkan rasa senang dan bahagianya tinggal di Pidie.

Kepada bupati, para kafilah mengatakan betah tinggal dipemondokan karena bersih, aman dan nyaman. Mereka juga mengatakan pemilik rumah tempat pemondokan mereka tinggal melayani mereka dengan baik. Begitupun dengan warga sekitar yang ramah-ramah.

Muhammad Ishak, salah seorang wartawan asal Aceh Timur, mengatakan dibalik ketatnya kompetisi MTQ tingkat provinsi Aceh XXXIV. Ternyata dibalik itu, semua warga Pidie telah mampu memikat para tamu yang datang dari pelosok Aceh dengan sikap keramah tamahnya.

“Warga Pidie, khususnya yang di kota Sigli, ini memperlakukan kami sebagai saudara se Aceh. Kami tidak merasa asing di selama tinggal di sini” kata Muhammad. Begituppun dengan makanan yang dijajakan di warung-warung. Selain rasanya enak, harganya pun murah.

“Ya sama seperti di daerah kami di Aceh Timur.  Malah kalau di Sigli, ini kita beli nasi pagi dengan lauk daging kari bebek. Namun di dalamnya ada tambahan ikan pepes, telur, entah apa apa lagi. Pokoknya banyak dalam bukusan. Harganya cuman Rp 13.000” kata Muhammad Ishak, wartawan harian Waspada yang sehari-hari bertugas di Aceh Timur.

Senada disampaikan, Susi Anggraini, 30 warga Gayo Lues yang mengaku sudah empat hari tinggal di Kota Sigli, Kabupaten Pidie. Dia tidak membayangkan jika warga Pidie bersikap ramah dan baik dengan orang asing seperti dirinya yang baru datang. Malah ketika baru tiba di penginapan bersama keluarganya, dia enggan keluar kecuali ke arena Venue utama.

Tetapi ketika salah seorang pedagang minuman yang mengaku dirinya orang setempat menemukan dompetnya yang jatuh. Lalu mengembalikan, ia justru jadi bersimpati, dan sekarang malah sudah berteman dengan pedagang asal kota Sigli tersebut. “ Jujurnya orang Pidie baik baik bang, mereka ramah-ramah dan makannya juga pas dengan harganya. Enak” katanya.

Menilik lebih jauh ke belakang, 21 September 2019, opening ceremony yang membuat seluruh penonton takjub akan kolosal pembukaan yang ditampilkan putra-putri terbaik asal daerah berjuluk Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe, dengan suguhan tarian Meusyuhu. Tarian yang bernuansa Islami, ini memiliki makna masyarakat Aceh, khusususnya warga Pidie sangat ramah dalam memuliakan tamu.

Lepas dari pelaksanaan opening ceremony yang begitu megah, cerita berlanjut dari masing-masing daerah peserta MTQ Aceh XXXIV di Kabupaten Pidie. Mereka tentu tidak mau datang ke Pidie hanya untuk melancong saja, tetapi lebih dari itu mereka ingin mempersembahkan yang terbaik bagi daerahnya masing.

Begitupun bagi Kafilah Pidie, sebagai tuan rumah, tentu tidak mau hanya menjadi penerima tamu yang baik dengan menyajikan infrastruktur pelaksanaan yang baik saja. Tetapi juga ingin membuktikan kepada masyarakat Aceh, bahwa Pidie mampu bersaing dengan raksasa seperti, Aceh Timur, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh yang dalam beberapa dekade ini selalu mendominasi MTQ tingkat Provinsi Aceh.

Memang beberapa waktu lalu, bupati Pidie Roni Ahmad, biasa disapa Abusyik berharap pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXIV di Kabupaten Pidie dapat berlangsung Play Faire, sehingga melahirkan qori-qori’ah atau peserta yang mempuni yang mampu mewakili Aceh ke tingkat nasional maupun Internasional. Artinya, bukan bupati Roni Ahmad tidak ingin daerahnya menjadi juara umum pada MTQ XXXIV.

“Kalau peserta tuang rumah, memang benar-benar mampu menjadi yang terbaik, berilah nilai yang terbaik. Tetapi kalau ada peserta dari daerah lain yang lebih baik dari peserta tuan rumah, ya berilah nilai terbaik kepada peserta daerah lain. Karena hasil dari MTQ ini nanti akan mewakili Aceh ke tingkat nasional dan bahkan internasional” kata bupati Roni Ahmad.

Terlepas dari berbagai polemik daerah mana yang menjadi juara umum MTQ Aceh XXXIV di Kabupaten Pidie. Dan, terlepas dari perihnya mata akibat kabut asap dan memanasnya unjuk rasa serta demonstrasi mahasiswa yang sedang berlangsung diberbagai daerah.

Ternyata kekompakan dibarengi rasa persatuan dan kesatuan, masyarakat Pidie telah berhasil mensukseskan event MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXIV, yang dipusatkan di Pidie Convention Center (PCC) gampong Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie. semangat seluruh masyarakat Pidie, ini hendaknya dapat membuat kita sadar, betapa pentingnya rasa persatuan dan kesatuan kita. Selamat tinggal tamu kami para Kafilah se Provinsi Aceh, kenanglah kami Pidie sepanjang sejarah.

 

sumber waspada.id

Penulis Muhammad Ridha (SKH Waspada)

foto Saiful Bahri, S. Kom

Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
Copyright © 2019 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN