Abusyik Memberikan Kuliah Umum Di Universitas Malikussaleh, Aceh Utara

Minggu, 22 Oktober 2017 / 1 Safar 1439 Belum ada komentar

21587272_1671482396209053_815666321553072761_o

Disampaikan pada Kuliah Umum dengan Tema:
“Kepemimpinan Visioner”

Selasa, 19 September 2017

Program Studi Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Malikussaleh, Aceh Utara

Mengenal Pidie dan Abusyik
Pidie merupakan satu kabupaten dari 23 kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Aceh yang berpenduduk 44H3.718 jiwa yang tersebar di 23 kecamatan, 94 mukim 730 gampong (desa). Kabupaten dengan pusat pemerintahannya di Kota Sigli itu memiliki perbatasan wilayah di sebelah utara dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Kabupaten Aceh Jaya, sebelah Barat dengan Kabupaten Aceh Besar, dan sebelah Timur dengan Kabupaten Pidie Jaya.

Pemimpin Visoner
Dalam rangka mewujudkan visi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, suatu daerah tidak lepas dari peran para pemimpin visioner yang menentukan arah pembangunan daerah, bangsa, dan negaranya. Pemimpin visioner dilahirkan dan dibentuk tidak hanya melalui suatu proses belajar di sekolah, tapi juga berasal dari berbagai pengalaman penting di kehidupan sosial masyarakat. Identitas masyarakat yang berperadaban mutlak ditentukan oleh peran dari pemimpin yang baik dan berkualitas.

Kepemimpian Visioner
Secara umum, kepemimpinan visioner diartikan sebagai kepemimpinan yang berdasarkan visi. yaitu pemimpin yang mampu melihat realitas, mencurahkan perhatiannya secara terus-menerus untuk meyakinkan orang lain bahwa visinya akan menjadi kenyataan. Dalam konteks ini, visi merupakan kekuatan dalam (inner force) yang memberikan energi kepada pemimpin untuk bertindak.
Pemimpin harus memahami bahwa kepemimpinan merupakan pengembangan visi dan strategi, maka perlu orang-orang yang relevan di belakang strategi-strategi ini, serta secara intensif dilaksanakan pemberdayaan SDM organisai untuk membuat visi ini berhasil secara maksimal.

Pemimpin Visioner ‘Ala Abusyik’

Dalam memimpin pembangunan Kabupaten Pidie, Abusyik mengusung selogan ‘Pidie Meusigrak’, yang memiliki makna: terjalinnya senegitas tiga aktor pembangunan di kabupaten Pidie (pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia usaha) serta terlibat aktif dalam menyukseskan visi pembangunan. Prinsip ini punya kaitan dengan peunutoh Abusyik yaitu “carong hana diduek bak urueng sidroe, carong bak urueng rame.” Prinsip ini memiliki makna, kepintaran, kehebatan, dan kekuatan berasal dari orang banyak, bukan karena satu orang. Implementasi prinsip ini sebagai upaya merangkul dan mengapresiasi atas partisipasi semua elemen masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan yang menekankan budaya gotong royong, bekerja ikhlas, dan sinergis.
Untuk mewujudkan Pidie Meusigrak, menurut Abusyik (Bupati), pembangungan harus dilandasi dengan gaseh sayang (kasih sayang), yaitu kasih sayang pemerintah kepada rakyat, rakyat kepada pemerintah, dan rakyat sesama rakyat serta kepada lingkungan dan seluruh alam. Landasan ini terinspirasi dari pesan Bismillahirrahmanirrahim, sebuah kalimat yang dianjurkan ajaran Islam ketika ingin memulai sesuatu hal. Dalam kalimat tersebut menggambarkan dua sifat Allah, yaitu rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). Dengan terjalinnya kasih sayang antara pemerintah, rakyat, dan alam maka akan terbentuk rasa kepedulian, kekeluargaan, dan kekompakan yang mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap agenda pembangunan.

Menurut Abusyik, Kabupaten Pidie memiliki potensi alam yang komplek. Sumber daya alam yang berasal dari Gle, Blang, dan Laot (Gunung, Persawahan/Pertanian, dan Laut) sangat potensial dikelola dengan baik untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kerena itu, Wakil Bupati Kabupaten Pidie, Fadhlullah TM Daud menyampaikan, untuk mengelolanya, Pidie butuh tangan (jaringan) Birokrasi yang tertib dan melayani.

Birokrasi yang tertib adalah pemerintahan/birokrasi yang disiplin, taat azas, taat hukum, aturan, nilai-nilai, komitmen pembangunan serta efektif dan efisien dalam bekerja. Prinsip birokrasi tertib, Abusyik sering menyebutnya dalam falsafah Aceh yaitu ‘Darah njang butoi, hareum meusulet’ artinya darah (manusia) yang benar, haram (tidak akan) berbohong/berkhianat. Prinsip ini menekankan pada perbaikan moral pemerintah dan masyarakat.

Sedangkan Birokrasi yang melayani merupakan pemerintah/birokrasi yang mampu memberikan pelayanan prima untuk memenuhi hak-hak masyarakat secara adil, transparan, akuntabel, cepat, tepat, mudah, murah, dan berkualitas. Pemerintah harus mampu mengelola potensi dan sumber daya demi kesejahteraan rakyat. Sehingga kehadiran pemeritah benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. Birokrasi yang tertib dan melayani adalah bentuk kasih sayang pemerintah kepada rakyat.

Social Media Share!

    Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
    Copyright © 2017 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
    TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN