Pejuang Wanita Pidie Yang Memukau Belanda

Minggu, 23 September 2018 / 12 Muharram 1440 Belum ada komentar

NanggroePidie, Sigli – Pocut Meurah Intan, adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan Aceh, ayahnya Keujruen Biheu, Suaminya Tuanku Abdul Majid, dia merupakan anggota keluarga Kesultanan Aceh. Pada masa peperangan Aceh dengan Belanda, dia tidak mau melakukan perdamaian dengan penjajah, suaminya merupakan pejuang yang handal saat itu di Selat Malaka, kini posisinya berada diperairan Kecamatan Muara Tiga (Laweung) dan Bate, hingga sauat saat suaminya ditahan oleh Belanda.img_9474-1-750x375

Pocut Meurah Intan, memiliki tiga orang putra yaitu Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman Dan Tuanku Nurdin. Meskipun suaminya telah ditahan, dia juga bangkit bersama putra-putranya melawan penjajah yang menobatkan dia sebagai satu-satunya keluarga kerajaan yang tidak menyerah kepada Belanda saat itu.

Karena terus dilawan dan tidak mau menyerah, Jenderal Viltman, Letnan JJ Burger, Letnan Jhr J J Boreel dan Sersan Feenstra, ditugaskan meyisir perkampungan untuk mencari Pocut dan tiga putranya. Akhirnya setelah lama melakukan pengejaran Tuanku Muhammad Batee tertangkap di kawasan Batee. Pun demikian, Tuanku Muhammad Batee, tetap bersikukuh untuk tidak bekerja sama dengan Belanda. Oleh karena itu, itu berdasarkan Surat Keputusan Belanda Nomor 25, dia dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara.

Tak lama kemudian, keberadaan Pocut diketahui. Saat itu, dia berjuang seorang diri melawan Pasukan Marsose (pasukan elit belanda dibantu KNIL), Jenderal Viltman, yang diketahui memimpin pasukan saat itu, sangat terkejut melihat seorang wanita Aceh yang berani melawan 18 Marsose Belanda. Hasil perlawanannya tersebut, dia diceritakan terkena dua sabetan pedang dibahu, sallahs atu urat keningnya terputus, sehingga dia tumbang bersimbah darah.

Jenderal Viltman, yang terkenal dengan jiwa satrianya melarang anak buahnya menembak mati perempuan perkasa tersebut, bahkan dia menawarkan pertolongan kepada Pocut, tentunya perempuan dengan jiwa kesatrianya juga enggan menerima pertolongan dari Kafir Belanda, sehingga dia ditinggalkan oleh lawannya. Ditinggalkan dirinya oleh seorang Jendral bukan tanpa alasan, dia dibiarkan mati perlahan agar dilihat oleh bangsanya sendiri, berharap semangat juang rakyat Aceh aka runtuh jika pemimpinnya kalah dan mati dihadapan mereka.

Tapi, sayang bagi Jendral, ternyata Pocut tak mati seperti yang diharapkan, dia masih hidup berkat kotoran lembu yang dimamfaatkannya menjadi pengobat luka-luka yang didapatkannya. Bahkan, dia dikabarkannya lagi dia akan kembali menyerang Belanda. Namun, keadaannya semakin parah, hingga kakinya pincang. Melihat itu, Viltman, merasa iba dan kembali hendak menolongnya dengan cara menawarkan obat-obatan untuk kesembuhannya, lagi-lag tawaran itu tetap ditolak oleh wanita pemberani tersebut.

“Leubeh get mate Syahit, daripada tuboh lon di mat le kaphe Beulanda,”atau “lebih baik aku mati syahit daripada tubuhku dipegang oleh kafir Belanda,’’ Ucap Meurah Intan.

Kabar hebatnya wanita Aceh tersebut, ternyata sampai ketelinga Jendral Scheutz, yang berada di Jawa Tengah, dia sangat kagum melihat Pocut tersebut, dikarenakan seorang Jendral Belanda teersebut belum pernah melihat keperkasaan wanita di Indonesia seperti dia, perjalanan jauh dari Batavia dijalaninya hanya untuk memuaskan hasrat ingin berjumpa dengan sosok Pocut Meurah Intan.

Meskipun sudah semakin tua dan pincang, kehadiran Pocut ditengah-tengah masyarakat sangat berpengaruh pada peperangan Belanda, hadirnya dia membuat api perlawanan semakin berkobar dalam diri masyarakat, hal tersbut membuat pasukan penjajah semaakin kewalahan melawan pasukan Aceh yang gagah berani. Akibatnya dia diasingkan oleh Belanda ke Blora, Jawa Tengah, sementara dua orang putranya kembali melanjutkan perjuangan melawan penjajah.

Sumber : Lembaga Kroeng Aneuk Nanggroe, MAA Pidie.
Editor : Zian Mustaqin.
Social Media Share!

    Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
    Copyright © 2018 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
    TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN