Kata Sambutan Bupati

Sabtu, 18 November 2017 / 28 Safar 1439 Belum ada komentar

SarjaniAbdullah-RegentofPidieSAMBUTAN BUPATI PIDIE
RONI AHMAD
PEMERINTAH KABUPATEN PIDIE

Damee Nyang Indah- “Nakeuh Rahmat dari Allah, SWT”

Bismillahhirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum, Wr, Wb.
Perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, merupakan Rahmat dari Allah SWT. Yang akhirnya dapat mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Aceh pada tahun 2005.
Ketika membaca renungan dari berbagai kalangan masyarakat kita, yang antara lain bahwa damai itu indah, menjadi kunci menuju kepada kehidupan pembangunan yang sejahtera dan bermartabat. Karenanya ikrar perdamaian harus dirawat dengan baik. Semua pihak hendaknya harus ikut berpartisipasi secara aktif merawat dan memupuk secara berkelanjutan. Setiap butir kesepakatan damai dan segala regulasi yang telah dibuat sebagai fondasi perdamaian harus terlaksana dan dipatuhi oleh semua pihak stakeholders.
Renungan refleksi pada masa konflik, hampir tidak ada yang diuntungkan, hanya kehancuran dan yang paling teraniaya bila perang terus berkecamuk adalah kaum perempuan yang menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim. Perdamaian Aceh sangatlah mahal dan jangan ada lagi konflik. Untuk mewujudkan perdamaian Aceh yang utuh dan berkelanjutan, budaya damai yang pernah diajarkan dan diterapkan dalam masyarakat Aceh harus selalu menjadi pegangan. Fondasi damai telah terpatri dalam setiap tata kehidupan masyarakat Aceh yang ditinggalkan Po Teumeuruehom. Sultan Iskandar Muda yang melihat masyarakat Aceh sebagai masyarakat multikultural yang terdiri dari berbagai suku bangsa.
Kumpulan manusia yang berbeda-beda asal-usulnya membentuk kepentingan dan tujuan yang sama, pada saat tertentu dalam perjalanan historis Kerajaan Aceh pada masa itu. Berbagai keragaman itu dapat dibuktikan secara sederhana dari bentuk fisik, karakter sosial dan bahasa-bahasa lokal sebagai bukti nyata yang terdapat dalam masyarakat Aceh sampai saat ini. Dalam menyatukan persepsi masyarakat multikultural yang terbentuk secara ’konsensus lokal’ dengan nama Aceh. Harus ada suatu pemahaman di dalam masyarakatnya, sehingga tidak terjadi disharmoni dengan sesama.
Sultan mengajarkan, dalam konteks kemultikulturalan diperlukan suatu pemikiran untuk dapat mempertahankan kebersamaan dalam harmonisasi yang bertahan secara berkesinambungan. Masyarakat Aceh disatukan oleh suatu landasan pemikiran yang menjamin eksistensi mereka terhadap asosiasi sehingga mampu menuju suatu tujuan yang sama, walaupun tanpa dilatarbelakangi pemikiran yang seragam.
Keberagaman pemikiran dalam kehidupan masyarakat Aceh dapat terlihat melalui ungkapan sehari-hari. Ada yang dikemas dalam bentuk syair atau pantun, namun sesungguhnya memiliki pokok pemikiran dalam masyarakat yang dibentuk melalui tradisi lisan.
Aceh dan Islam menyatu dalam kehidupan masyarakat Aceh, hal ini tidak dapat dipisahkan, seperti ungkapan yang berkembang, adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet (adat dengan hukum seperti zat dengan sifatnya). Memang, dalam kehidupan masyarakat Aceh tak terlepas dari konflik dalam perjalanan historisnya.
Konflik adalah suatu keniscayaan dan kodrat dalam kehidupan manusia. Seperti tercantum dalam Al Qur’an, Surat Hud ayat 118-119. Dalam ayat ini Allah SWT menyimpulkan, yang artinya, Allah tidak menghendaki manusia dalam keadaan tunggal (monolitik), manusia senantiasa berkonflik, yang tidak berkonflik adalah “mereka yang mendapatkan rahmat Allah SWT”.
Allah SWT, telah menciptakan manusia, Maha kehendakNya Allah, dengan keputusan dan ketetapan Allah itu telah sempurna dan tidak berubah (kunfayakun). Kebahagiaan dan kesengsaraan abadi kepada yang bersangkutan dengan masalah perbedaan antara sesama manusia dan perselisihan di antara mereka. Perbedaan sesama manusia yang diterima tanpa menimbulkan konflik merupakan rahmat Allah yang membawa kepada perdamaian dan kebahagiaan, sedangkan konflik sesama manusia yang diterima dengan perselisihan akan menjadi pangkal permusuhan dan kesengsaraan, sehingga dibutuhkan suatu konsepsi budaya damai dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal yang berkenaan, banyak kita temukan dalam berbagai ungkapan dan merupakan tradisi lisan dalam kehidupan keseharian yang berlaku di dalam masyarakat Aceh. Di dalam kehidupan masyarakat Aceh, segala kebijakan dalam kehidupan berdasarkan kepada hukum dan pemimpin. Misalnya, hana umong nyang hana ateung, hana ureung nyang hana petua. (tak ada sawah yang tidak berpematang, tak ada orang yang tidak berpemimpin).
Begitu juga masyarakat Aceh adalah masyarakat yang senantiasa menjunjung tinggi rasa kebersamaan dalam kehidupan mereka yang diistilahkan, udép beusaré, maté beusajan, sion kafan saboh keureunda (hidup bersamaan, mati berbarengan satu kafan, dalam datu keranda). Orang Aceh juga sangat menjunjung tinggi norma hukum untuk mengimbangi karakteristiknya, hal ini tercermin dalam ungkapan kiwieng ateueng beuneung peuteupat, kiwieng ureung peudeung peuteupat (bengkok pematang, benang yang luruskan, bengkok orang, hukum pedang yang luruskan). Semoga Perdamaian yang sudah terwujud di Aceh dapat kita jaga dengan sebaik-baiknya.
Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Rakyat kepada kami untuk memimpin Pidie 2012 hingga 2017 nanti. Apabila ada masalah dan kendala-kendala mudahan-mudahan dengan kebersamaan dapat kita selesaikan nantinya. Untuk Program lima tahun kedepan kita akan mulai dengan Rencana Strategis mulai 100 Hari dan tiap tahunan dalam jangka lima tahun (menengah) ataupun satu periode (RPJM). Hingga kita nantinya mempunyai pondasi program jangka panjang sampai 25 tahun lebih.
Untuk Kepala SKPK nantinya diharapkan dapat mengikuti Visi dan Misi serta menyiapkan Rencana Strategis (RPJM) juga Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dengan baik sebagai acuan pencapaian target program.
Kita upayakan terjun langsung kedalam aktivitas masyarakat dengan melakukan pendampingan dan pembinaan, secara maksimal di berbagai sektor seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, perdagangan dan berbagai industri termasuk pendidikan, keagamaan serta kesehatan dan lainnya, yang dapat menciptakan nilai tambah secara maksimal, hingga masyarakat dapat berjaya dengan pendapatan dengan Iptek dan Imtaq yang maksimal, kita semua diminta untuk serius dalam bahu-membahu secara bersama menjabarkan setiap kebutuhan masyarakat di berbagai sektor.
Tentunya dengan skala prioritas, dimulai dengan pendataan dan evaluasi serta koordinasi, meningkatnya PAD juga akan meningkat percepatan pembangunan, seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat kita, terbatasnya PAD akan membawa dampak lambatnya pembangunan. Lakukanlah upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD) dengan langkah-langkah yang tepat dari berbagai sumber dengan sekuat tenaga.
Kita harapkan akan dapat lahirnya berbagai industri dan perdagangan besar yang dapat menampung tenaga kerja. Kita jangan hanya mengharapkan pendapatan dari hasil tani, pegawai ataupun buruh namun harus kita gerakkan sektor riil perdagangan dan industri yang dapat menampung hasil panen dan mengurangi pengangguran atau menampung tenaga kerja produktif.
Perlu kami tegaskan bahwa tempat-tempat maksiat tidak dibenarkan, ini adalah harapan para Ulama dan kita semua, dan merupakan tugas kita semua untuk mengantisipasinya, agar Pidie mendapat rahmat yang leubeh jroeh ukeu, jauh dari bala dan bahaya.
Bekerjalah dengan cara-cara ikhlas” bukan karena ini dan itu, tidak mengharapkan imbalan dan pujian, InsyaAllah akan berhasil, sukses dan jaya. Dalam menjalankan tugas, pokok dan fungsi masing-masing SKPK, Kepemimpinan dalam Pemerintahan di Kabupaten adalah Bupati, tidak ada Pimpinan lain saudara dalam Pemerintahan Kabupaten Pidie, marilah dengan kesepakatan & kebersamaan kita membangun Pidie, bekerja keraslah untuk prestasi serta “setia” tanpa saling fitnah antara satu dengan yang lain, pimpinan dan bawahan ataupun bawahan dan atasan, di semua jajaran. Stop fitnah karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Jangan sampai terulang kembali masa-masa kelam, suram serta masa-masa sulit sebelumnya, mari kita mengintrospeksi dan bangkit dari keterpurukan dan bekerja serta berbuat dengan baik untuk kita semua.
Akhirnya, marilah kita dengan bahu-membahu melakukan pembangunan di berbagai sektor, termasuk di dalamnya yang paling utama adalah upaya Amar Makruf & Nahi Mungkar.
Saleum ngoen Teu’rimong Geu’naseh
Billahi Taufiq Walhidayah,
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Sigli, 17 Juli 2017
BUPATI PIDIE
RONI AHMAD

Social Media Share!

    Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
    Copyright © 2017 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
    TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN