Gebrakan Memakmurkan Pidie

Selasa, 24 Oktober 2017 / 3 Safar 1439 Belum ada komentar

Sesekali Bupati Pidie Sarjani Abdullah mengaku pikirannya menereawang ke situasi 10 tahun yang lalu saat konflik masih berkecamuk. Kala itu Aceh masih berkecamuk.Kala itu Aceh masih dilanda perang. Sebagai Panglima GAM wilayah Pidie, tentu sangat sulit memisahkan dirinya dari konflik bersenjata GAM – RI itu khususnya di wilayah Pidie dan Pidie Jaya. Kala itu, kata Sarjani, konflik muncul, salah satu sebabnya perut lapar. Orang – orang yang lapar, kata Sarjani, tidak bisa ditenangkan dengan senjata. “Saya punya pendapat, kalau perut rakyat kenyang, pemerintah juga akan tenang dalam bekerja,” kata Sarjani dalam sebuah wawancara eksklusif, pekan lalu.

Ketika MoU diteken antara pemerintah RI dan GAM, pihaknya pun menyambut gembira. Inilah saatnya menggeliatkan ekonomi rakyat yang sudah puluhan tahun tersibukkan dengan konflik. Maka ketika Sarjani – M Iriawan dilantik sebagai Bupati / Wakil Bupati Pidie pada 12 Juli 2012, hal yang pertama mereka pikirkan adalah mengenyangkan perut semua lapisan masyarakat di Pidie.

Tekat pertamanya adalah menjadikan Kabupaten Pidie sebagai lumbung pangan Nasional. Berbagai kebijakan yang diambilnya di sektor pertanian, peternakan, dan kehutanan juga dalam rangka menjadikan Pidie sebagai lumbung pangan nasional. Hasratnya itu sangatlah logis, dengan luas areal 29.337 hektar, Pidie selama ini selalu surplus beras.

Untuk mrningkatkan kapasitas produksi, jaringan irigasi diperbaiki, sawah-sawah baru dicetak, bantuan benih dan pendampingan dilakukan. Pabrik pengelohan padi yang modern juga kini tersedia. Jajaran Pemkab pidie juga turun langsung ke lapangan untuk menampung berbagai keluhan warga, khususnya terkait jaringan irigasi.

Di sektor regulasi, juga akan dibuat qanun yang akan menghambat alih fungsi lahan produktif menjadi rumah toko dan bangunan komersial lainnya “Saya juga prihatin dengan semakin menciutnya lahan produktif setiap tahun. Kita berencana membuat qanun untuk solusi masalah ini,” kata suami dari Rohana Razali, S.Tp ini.

Dibidang kesehatan juga mulai dilakukan pembenahan secara perlahan. Rumah Sakit Umum Sigli misalnya, kini jadi Badan Layanan Umum (BLU). Dengan perubahan ini, rumah sakit tersebut sudah lebih lega mengelola anggaran. Dampaknya, pelayanan yang akan deiberikan akan semakin baik. Dengan BLU, akan lebih fleksibel dalam keuangan dan mandiri dalam pengelolaan manajemen rumah sakit serta mampu menerapkan praktik-praktik bisnis sehat.

Khusus dokter spesialis, setiap tahun diusahakan meningkat jumlahnya. Warga Pidie ke depan diharapkan tidak berbondong-bondong lagi berobat ke Banda Aceh. Di ibu kota provinsi memang tersedia banyak dokter spesialis, yang menjadi magnet utama masyarakat Aceh berobat ke Banda Aceh. Namun saat ini, Pidie sudah punya tidak kurang dari 30 orang dokter spesialis dengan berbagai spesialisasi.

Sejak 1 Maret 2013, Pemkab Pidie tidak lagi menerima pegawai pindahan dari daerah lain. Tidak akan ada rekrutmen Pegawai Negeri Sipil di tahun 2013. Namun, yang pensiun setiap tahun semakin banyak jumlahnya. Pada akhirnya, jumlah pegawai akan menciut. Belanja rutin pun yang saat ini masih prosentasi besar, akan menurun setiap tahun, sehingga akan manaikkan belanja publik. Inilah konsep Pemkab Pidie yang berusaha menerapkan kesejahteraan untuk semua.(www.serambinews.com)

Social Media Share!

    Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
    Copyright © 2017 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
    TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN