Pelestarian Lingkungan Hidup

Rabu, 20 September 2017 / 28 Dzulhijjah 1438 Belum ada komentar

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

DAN SUMBER DAYA AIR

DALAM PANDANGAN FIKIH

Oleh: Khairizzama[1]Staf Bidang Peribadatan Dinas Syari`at Islam Kabupaten Pidie.

TGL.22 MARET 2009

[1]Tulisan ini diminta dalam rangka memperingati hari Air Se-Dunia pada tanggal 22 Maret 2009, sebagai bahan untuk dapat diinformasikan kepada masyarakat yang berada di wilayah Kabupaten Pidie tentang pentingnya penyediaan air bersih sebagai kebutuhan dasar kehidupan manusia ditinjau dari perpspektif fikih.

Pendahuluan

Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman Allah Swt : “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu. “(Q.s. Al Maidah: 3). Oleh karena itu, aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya, termasuk persoalan penciptaan alam raya dan lingkungan kosmos yang menjadi kebutuhan manusia (tanah, air dan udara).

Alam dan lingkungan kosmos ini sangat penting dijaga, dipelihara dan dilestarikan sedemikian rupa karena sangat berguna bagi kehidupan manusia. Manusia sangat membutuhkan lingkungan dan bahkan menjadi pihak yang sangat menentukan dalam lingkungan hidup. Baik tidaknya suatu lingkungan sangat tergantung kepada manusia yang ada di sekitarnya. Hampir semua agama memberikan perhatian yang tinggi terhadap lingkungan sebagai tempat hunian makhluk-Nya Islam bahkan melarang manusia menimbulkan kerusakan terhadap alam dan lingkungan kehidupannya (Al`A`raaf : 56). (Q.s. Ar Rum : 41) bahkan dituntut supaya senantiasa dijaga, dipelihara dan ditata dengan baik dan bersih.

Secara ekologis pelestarian lingkungan merupakan keniscayaan ekologis yang tidak dapat ditawar oleh siapapun dan kapanpun. Oleh karena itu, pelestarian lingkungan tidak boleh tidak harus dilakukan oleh manusia. Sedangkan secara spiritual fiqhiyah Islamiyah Allah SWT memiliki kepedulian ekologis yang paripurna. Paling tidak dua pendekatan ini memberikan keseimbangan pola pikir bahwa lingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikan Allah SWT kepada manusia tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak ada campur tangan manusia.

Beberapa tokoh lingkungan hidup menyebutkan bahwa agama mempunyai lima resep dasar untuk menyelamatkan bumi : (1) Reference atau keyakinan yang dapat diperoleh dari teks (kitab-kitab suci) dan kepercayaan yang mereka miliki masing-masing; (2) Respect, penghargaan kepada semua makhluk hidup yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk Tuhan; (3) Restrain, kemampuan untuk mengelola dan mengontrol sesuatu supaya penggunaanya tidak mubazir; (4) Redistribution, kemampuan untuk menye­barkan kekayaan; kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah derma­wan; misalnya zakat, infak dalam Islam; (5) Responsibility, sikap bertang­gung jawab dalam merawat kondisi bumi dan lingkungan.

Kelima dasar ini dapat menumbuhkan semangat untuk berbuat lebih banyak untuk melestarikan lingkungan dengan kepedulian. Dalam hal ini, kepedulian terhadap bumi amat tergantung pada bagaimana aspek-aspek ajaran agama disajikan dan dieksplorasi dengan bahasa serta idiom-idiom modern dan ekologis. Lingkungan sebagaimana disebutkan di atas mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, termasuk penyediaan dan pelestarian air bersih sebagai kebutuhan dasar hidup manusia.

Islam sangat memperhatikan keberadaan, ketersediaan, pendistribusian air yang memadai dan pelestariannya. Islam menempatkan air bukan saja sebagai minuman bersih dan sehat yang dibutuhkan untuk kelestarian hidup semua makhluk hidup, melainkan juga menjadikannya sebagai sarana penting yang sangat menentukan bagi kesah-han sejumlah aktifitas ibadah manusia dan kesempurnaan iman seseorang. Sejumlah ibadah seperti shalat, baca al-Qur`an, thawaf dan sejenisnya mengharuskan pelakunya suci dari segala hadas dan najis. Fikih bahkan menetapkan bahwa alat suci dari hadas dan najis yang paling utama dan terpenting adalah air, melalui wudhuk atau mandi.

Setiap pembahasan dan kajian fikih, mazhab manapun, pada umumnya didahului dengan pembahasan tentang air, karena pembahasan fikih selalu diawali dengan pembahasan tentang hukum ibadah. Dalam setiap pembahasan ibadah selalu didahului dengan pembahasan tentang bersuci (thaharah) sebagai persyaratan wajib pelaksanaan ibadah tersebut. Dalam setiap pembahasan tentang bersuci, air selalu menjadi faktor utama, karena air dalam fikih adalah alat bersuci (thaharah) yang paling utama.

Pentingnya air dalam kehidupan ini dijelaskan oleh Al-Qur`an dalam surat Al-Anbiya` (21), ayat 30: ”… dan Kami jadikan dari air itu segala sesuatu yang hidup…”. Sejalan dengan ayat ini, kita dapat melihat kenyataan bahwa kehidupan di alam ini sangat berkepentingan dengan air. Didukung dengan kenyataan bahwa tiga perempat dari isi bumi yang kita huni ini adalah air, jelas semakin memperkuat lagi kedudukan dan kepentingan air bagi semua jenis kehidupan. Dengan demikian masalah air adalah masalah dunia dan kehidupan yang seharusnya menjadi perhatian semua pihak.

Pencemaran Air

Terma air (al-ma`u) yang terdapat dalam wacana fikih meliputi masalah sumber air, kualitas air dan pemeliharaannya dari sumber pencemaran. Dalam kajian fikih disebutkan bahwa ada tujuh sumber air murni (ma`u al-muthlak), air yang suci dan menyucikan. Air ini sangat baik digunakan untuk kepentingan kehidupan segala jenis makhluk hidup, termasuk untuk kepentingan pelaksanaan ibadah. Ketujuh sumber air tersebut adalah sebagai berikut:

1. Air hujan (ma`u al-sama` atau mau al-mathar)

2. Air laut (ma`u al-bahr)

3. Air sungai (ma`u al-nahr)

4. Air sumur (ma`u al-bi`r)

5. Mata air yang memancarkan air (ma`u al-ain)

6. Salju, yakni air yang membeku (ma`u al-tsalji)

7. Embun, yakni titik-titik air yang jatuh dari udara pada malam hari yang sering ditemukan di atas dedaunan atau rerumputan.

Selanjutnya fikih juga membahas masalah kualitas air. Siapapun manusia berkewajiban untuk menjaga, memelihara dan melindungi kemurnian sumber air ini dari pencemaran, karena kualitas air menjadi hak setiap orang untuk memperoleh air bersih, suci dan menyucikan. Fikih membagi kualitas air itu kepada empat kategori:

1. Air bersih dan membersihkan (thahir muthahhir). Kategori ini disebut juga dengan (ma`u muthlaq). Air kategori ini sangat diharapkan oleh semua makhluk hidup, karena sangat baik untuk kehidupan dan dapat membersihkan sesuatu yang terkena najis atau hadas. Islam sangat mendambakan kualitas air ini untuk segala jenis kebutuhan termasuk dalam hal pelaksanaan ibadah.

2. Air bersih dan membersihkan tetapi tercela untuk dipakai, yaitu air yang sengaja dipanaskan di bawah terik matahari dalam bejana tembaga atau semacamnya. Air ini bersih/suci dan bias membersihkan, tetapi berbahagia bagi kesehatan, karena itu penggunaannya menjadi makruh. Sebaiknya tidak digunakan untuk kepentingan manusia.

3. Air bersih (dalam arti tidak kotor), tetapi tidak sah dipakai sebagai alat pembersih, yaitu air bekas atau air yang yang sudah terpakai untuk mmebersihkan sesuatu. Kategori ini disebut ma`u al-mustakmal. Termasuk dalam kategori ini adalah air yang tak murni karena sudah berubah rasa, bau dan warnanya akibat tercampur dengan benda-benda kotor yang mengubah kemurniannya, seperti air limbah pabrik yang sudah bercampur dengan zat-zat yang berbahaya (yang bukan najis).

4. Air kotor/najis, yaitu air yang tercemar oleh najis (benda-benda yang dipandang kotor dalam ajaran Islam). Air ini tidak boleh dan tidak sah digunakan untuk kebersihan dan menyucikan dari hadas dan najis. Air yang sudah tercemar oleh limbah industri yang mengandung zat-zat berbahaya dan merusak kesehatan termasuk ke daam kategori ini, maka dilarang menggunakannya.

Fikih juga membahas tentang banyak dan sedikitnya air (al-ma`u al-katsir wa al-ma`u al-qalil) sejauh mana dapat terpengaruh kualitasnya. Demikian juga tentang air yang mengalir dan tidak mengalir (al-ma`u al-jari wa al-ma`u al-rakid) sejauhmana dapat terpengaruh kualitasnya.

Air yang bersumber dari tujuh sumber tadi pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi kebersihan dan kesuciannya dan dapat digunakan untuk membersihkan sesuatu yang terkena najis dan hadas. Akan tetapi air ini bisa saja menjadi tidak murni bahkan sangat membahayakan jika udara yang kita hirup dan tanah tempat kita berpijak yang berhubungan langsung dengan sumber-sumber air sudah tercemar sedemikian rupa atau sumber air itu sudah tercemar oleh zat-zat lain, sehingga air yang turun dari awan dan keluar dari tanah itu mengandung zat-zat yang membahayakan dan merusak kesehatan, seperti air lumpur belerang, hujan asam dan sebagainya.

Maka untuk kepentingan kehidupan, kemanusiaan dan ibadah, setiap muslim harus mengupayakan tersedianya air bersih yang berstandar bersih dan membersihkan (thahir muthahhir), yakni air murni untuk diminum, untuk kebersihan badan, pakaian dan tempat serta menyucikan diri dari najis dan hadas. Untuk itu, pemeliharaan sumber air dari pencemaran dengan sendirinya menjadi waji dilakukan oleh semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah. Kewajiban ini didasarkan pada kaidah fiqhiyyah “Ma la yatimmu wajib illa bihi fa hua wajib”, sesuatu yang menyebabkan suatu kewajiban tidak terlaksana secara sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib dilakukan atau disediakan untuk kesempurnaan pelaksanaan kewajiban itu.

Dalam konteks pemeliharaan sumber air dari pencemaran, ajaran Islam sudah menunjukkan ke arah pencegahan yang sangat cermat, misalnya ada aturan pelarangan buang kotoran di tempat penampungan air yang tidak mengalir, di bawah pohon yang sedang berbuah, di jalan raya, tempat perteduhan dan lain-lain. Aturan-aturan ini dapat disimpulakan bahwa Islam menghendaki ada tempat khusus untuk buang kotoran, karena selain akan mengganggu kenyamanan lingkungan juga akan mencemarkan air, tanah maupun udara. Air yang sudah tercemar oleh kotoran manusia akan menjadi air najis yang berakibat kepada tidak sahnya ibadah seseorang.

Langkah Strategis Memelihara Lingkungan Hidup dan Penyediaan Air Bersih

Mengingat masih banyaknya faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup dan pencemaran air. Baik pemerintah atau masyarakat sebagai individu harus berinisiatif mengambil peran strategis untuk memelihara lingkungan sekitarnya, minimal pemeriharaan itu dapat dilakukan dari dalam rumah masing-masing. Ada beberapa langkah yang dapat diambil sebagai berikut :

1. Pemerintah yang sedang berkuasa mempunyai kewajiban menjaga dan melindungi hak-hak warganya dan aset-aset alam yang dimiliknya, melalui serangkaian kebijakan berorientasi pada kepentingan bersama (tasharrufu al-imâm ‘alâ al-ra‘iyyah manûthun bi al-mashlahah). Pemerintah menindak tegas pelanggaran perusakan lingkungan hidup. Setiap tindakan pencemaran air bersih yang merugikan kepentingan masyarakat banyak dan negara merupakan pelanggaran hukum dan pelakunya harus dikenakan sanksi hukum dunia (penjara).

2. Masyarakat hendaknya menerapkan pola hidup ramah lingkungan. Melalui Kitab Suci Al Qur’an, Allah telah memberikan informasi spiritual kepada manusia untuk bersikap ramah terhadap lingkungan. Menjaga semua aset-aset yang telah diberikan Tuhan. Informasi tersebut memberikan sinyalamen bahwa manusia harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan agar tidak menjadi rusak, tercemar bahkan menjadi punah, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia semata-mata merupakan suatu amanah. Melalui Kitab Suci yang Agung ini (Al-Qur’an) membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap ramah lngkungan.

3. Ulama` hendaknya mampu membangun keyakinan Umat Islam untuk tidak merusak lingkungan hidup.

4. Ulama` Umara dan masyarakat mampu memakmurkan bumi. Bumi merupakan kesatuan lingkungan hidup yang amat luas. Permukaannya diperkirakan seluas 510 juta Hektar, tapi dengan permukan tanah hanya 153 juta Km persegi atau 15.300 juta Hektar. Oleh karena itu, suatu desa tempat tinggal kita hanya merupakan luasan lingkungan hidup yang amat kecil jika dibandingkan dengan bumi sebagai suatu tatanan lingkungan hidup yang besar. Namun begitu, suatu perbuatan negatif ataupun positif oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap lingkungan hidupnya dalam batasan luasan yang kecil sekalipun, akan membawa pengaruh kepada tatanan lingkungan hidup or­ang lain yang dekat maupun jauh. Cepat atau lambat secara akumulatif akan berpengaruh pula kepada bumi sebagai suatu kesatuan lingkungan hidup umat manusia serta, makhluk Allah Swt selain manusia.

Kesimpulan

Manusia hendaknya memelihara lingkungannya dengan baik, tidak melakukan perusakan terhadap lingkungan, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik“. (Al`A`raaf : 56). Di dalam surat Ar Ruum ayat 41 Allah SWT memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia.  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) “. Serta surat Al Qashash ayat 77 menjelaskan : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Semua jenis air dari sumber apapun pada hakekatnya adalah milik Allah Swt yang dipersiapkan untuk semua makhluk-Nya demi kelangsungan hidupnya di jagat raya ini (Al-Anbiya` : 30). Semua air itu pada hakekatnya adalah suci. Manusialah yang membuatnya kotor, najis dan tercemar, sehingga tidak layak dikonsumsi dan digunakan untuk kelangsungan kehidupan ini. Oleh karena itu, menyediakan, menjaga, memelihara dan melindungi air dari pencemaran adalah kewajiban semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat untuk kelangsungan hidup semua makhluk-Nya yang dalam komponen dasar kehidupan tergolong ke dalam hifdh al-nafs (perlindungan jiwa, raga dan kehormatan). Air sebagai kebutuhan utama manusia perlu diatur dan dikelola dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal bagi semua kebutuhan kehidupan makhluk-Nya. Semoga Bermanfaat. Amin!!

Wallahu `Aklamu bi Al-Shawab

Daftar Bacaan

Al-Qur’an al-Karim.

Ali, Mukti, 1999. Memahami Beberapa Aspek Ajaran Al Qur’an, Mizan, Bandung.

Abdillah, M. 2005. Fikih Lingkungan. UPP AMP YKPN, Yogyakarta

Abdurrahim, M. Imaduddin, 2002. Islam Sistem Nilai Terpadu, Gema Insani Pers, Jakarta.

Harahap, A, dkk. 1997. Islam dan Lingkungan Hidup. Penerbit Yayasan Swarna Bhumy, Jakarta.

Kahar, M.A., 1996. Almanak Lingkungan Hidup Indonesia 1995/1996. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.

Kementerian Lingkungan Hidup, 2002. Himpunan Peraturan Perundang-undangan dibidang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta.

Sirozi, dkk., 2001. Islam Humanis (Islam dan Persoalan Kepemimpinan, Pluralitas, Lingkungan Hidup, Supermasi Hukum, dan Masyarakat Marginal), Moyo Segoro Agung, Jakarta.

Shihab, M. Quraish, 1996. Wawasan Al-Qu’an, Mizan. Bandung.

Shihab, M. Quraish, 1992. Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat”, PT. Mizan, Bandung, 1992.

 


Social Media Share!

    Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pidie - Provinsi Aceh
    Copyright © 2017 BAG.TELEKOMUNIKASIL&PDE SETDAKAB PIDIE. Jl.Prof. A.Madjid Ibrahim, Kota Sigli 24151.Fax 0653-21557. Email: setda@pidiekab.go.id
    TERWUJUDNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBANGUN PIDIE YANG MULIA, BERKUALITAS, SEJAHTERA, DAN MEMILIKI MASA DEPAN